Simon dan Erin tampak asik di depan laptop masing-masing di sebuah coffee shop di Ubud, Bali. Keduanya adalah pasangan kekasih asal Inggris yang berkeliling dunia sebagai digital nomaden atau digital nomad sejak 2010.

Lewat website neverendingvoyage.com, Simon dan Erin menulis banyak konten, khususnya panduan traveling ke berbagai negara.

Mereka membantu klien juga pembaca merencanakan perjalanan sempurna sampai tujuan, sembari berbagi banyak tips. Simon juga menerima banyak pekerjaan, seperti web developing dan desain grafis.

Simon dan Erin menghabiskan setahun pertama perjalanan mereka dengan berkunjung ke Asia, Eropa, Afrika, Amerika Tengah, Amerika Utara, dan Timur Tengah.

Mereka kadang sedih karena harus jauh dari keluarga, tapi pengalaman luar biasa yang didapat tak terhitung jumlahnya.

Selama sebulan di Ubud, pasangan digital nomad ini menghabiskan 1.000 dolar AS atau setara Rp 14 juta untuk biaya hidup.

Dari mana mereka mendapat uang? Dari klien yang menggunakan jasa mereka. Keduanya sejak 2008 memutuskan resign dari pekerjaan masing-masing dan menjadikan kerja freelance sebagai ceruk penghasilan utama.

Fenomena digital nomad tengah berkembang di Pulau Dewata. Ini adalah pekerjaan yang dilakoni para pekerja lepas (freelance) hanya bermodalkan gadget dan akses internet.

Di mana ada wifi dan colokan listrik, di sana mereka bisa bekerja, tak berbatas ruang dan waktu, berpindah tempat kapan pun mereka mau.

Digital nomad bak asisten virtual yang bisa melakoni banyak pekerjaan, seperti menulis konten, mengelola media sosial, blogger, influencer, YouTuber, web developer, dan designer.

Mengapa Kerja Freelance?

Pertama, tentu saja untuk menambah penghasilan. Kamu bisa mendapat banyak klien dan job jika mau. Pekerja freelance yang memiliki akun LinkedIn misalnya, bisa dihubungi 10 bahkan 20 orang sekaligus untuk portofolio bisnis.

Pekerja freelance – jika benar-benar kompeten – bisa menghasilkan uang berkali lipat lebih banyak dari mereka yang bekerja kantoran. Mereka juga tak terikat dan lebih bebas.

Foto: Pixabay

Orang bilang, jangan taruh semua telurmu di dalam satu keranjang. Kalimat ini cocok untukmu yang bekerja freelance.

Kedua, tak perlu takut PHK. Kerja freelance dalam artian halus adalah bekerja di banyak perusahaan sekaligus. Jika kamu diputus kontrak oleh satu orang bos, kamu masih mempunyai bos lain.

Kamu tak mungkin menjadi pengangguran dalam waktu semalam. Bagaimana dengan bos yang memecatmu? Apakah dia akan menemukan pekerja baru yang jauh lebih baik darimu? Belum tentu.

Ketiga, mengasah keterampilan karena kamu bebas menuangkan ide, tidak berada di bawah kendali pimpinan atau perusahaan tempat bekerja.

Penulis konten dengan keterampilan berbasis internet tingkat tinggi misalnya, dia tahu bagaimana cara menulis konten di WordPress agar mendarat di halaman pertama mesin pencarian Google.

Keempat, memiliki daya tawar dan daya jual. Kebanyakan orang pertama kali akan meremehkan kerja freelance dan mematok standar rendah.

Dengan terus meningkatkan pengalaman, kamu memiliki daya tawar dan daya jual atas pekerjaan yang kamu kerjakan.

Kelima, mengelola brand sendiri. Kamu bisa menciptakan brand sendiri dengan bekerja freelance.

Keenam, menambah koneksi. Koneksi kelak akan memberi keuntungan besar untukmu setelah terbangun hubungan kuat berlandaskan kepentingan bersama dengan klien.

Baca juga: 7 Pekerjaan Freelance ini Cocok Untuk Pria Milenial

Tips Menjalani Kerja Freelance

Siapa yang tak ingin mengatur jam kerja sendiri, memutuskan pekerjaan apa yang ingin diambil, menentukan tarif dan gaji sendiri?

Inilah yang membuat banyak orang, khususnya generasi milenial menjadikan freelance sebagai batu loncatan untuk tujuan lebih besar.

Meski demikian, kerja freelance bukan kerja asal-asalan loh. Berikut beberapa tips penting untukmu yang sedang menjalankan atau baru ingin memulai kerja freelance.

1. Tentukan tujuan

Hidup tanpa tujuan seperti kapal terombang-ambing di tengah lautan. Katakanlah tujuanmu bekerja freelance adalah menjadikan bisnis ini sebagai pekerjaan utama dan membesarkannya.

Kamu bisa mengatur jam kerja sendiri, memutuskan dengan siapa ingin bekerja sama, dan meraup semua peluang yang datang. Kerja freelance hari ini adalah kendaraanmu untuk sampai ke tujuan utama itu.

Kamu juga bisa memasang target khusus, misalnya penghasilan kerja freelance setidaknya harus 75 persen dari gaji bulananmu saat ini.

2. Jangan jual murah

Orang bilang, sombong itu tidak bagus. Namun, jika bukan kamu yang mempromosikan diri sendiri, siapa lagi?

Trus, biar gak terkesan sombong, bagaimana cara promosi ke kliennya? Buktikan itu dengan fakta.

Jika kamu mencoba meyakinkan klien bahwa kamu hebat mengelola konten bisnis, maka kirim sampel artikel bisnis yang pernah kamu tulis sebelumnya. Beri bukti, bukan janji.

Ada ribuan pekerja freelance di luar sana, lalu apa yang membuatmu berbeda dari yang lain?

Mari asumsikan kamu seorang desainer grafis dengan keterampilan Adobe Illustrator dan Photoshop tingkat tinggi. Kamu menerima tawaran kerja freelance dari keterampilan ini.

Alih-alih menawarkan diri ke berbagai situs kerja freelance berbayar murah, lebih baik kamu meluncurkan blog atau website sendiri. Kamu harus aktif mencari klien yang bisa menghargai kualitas.

Pekerja freelance yang sukses bersaing dalam hal kualitas dan nilai, bukan harga.

Alih-alih mencomot proyek desain grafis kanan kiri, kamu cukup berkonsentrasi membuat desain infografis atau desain e-book untuk perusahaan teknologi.

Ini contoh cara cerdas menemukan niche premium dan aman di tengah menjamurnya niche serupa berharga murah.

3. Buat website berkualitas

Kamu perlu menjual diri dan membuktikan bahwa kamu orang terbaik melakukan pekerjaan ini.

Buatlah website berkualitas yang memuat berbagai portofolio, lengkap dengan informasi kontak, keterampilan yang dimiliki, pendidikan, dan prestasi yang relevan.

Jangan lupa rutin melakukan pembaharuan kerja ke arah lebih baik. Kamu bisa bergabung dengan grup whatsapp, grup Facebook, komunitas blogger, apa saja yang bisa memberi inspirasi.

4. Promosi di berbagai platform

Jangan diam saja setelah membuat website atau blog, kemudian beransumsi klien akan menemukanmu. Kamu bukan Princess Disney yang duduk manis menunggu dijemput pangeran berkuda.

Promosikan dirimu di berbagai platform, misalnya LinkedIn, Facebook, Twitter, dan media sosial apapun.

Foto: Pixabay

Meski terkesan kuno, kamu juga perlu membuat kartu nama. Ini untuk mencari peluang jika sewaktu-waktu kamu berjumpa dengan kien potensial di sebuah acara.

5. Rutin membuat konten dan posting testimoni

Tidak ada cara lebih baik menjual layanan selain menunjukkan kepada klien bahwa kamu bisa menyediakan apa yang mereka butuhkan.

Oleh sebabnya selalu perbaharui konten, gambar, atau video baru di laman website.

Minta klien memberikan testimoni begitu kamu menyelesaikan orderan pekerjaan. Posting testimoni tersebut ke website. Ini juga nilai plus untuk personal branding.

Terus perbarui dan kembangkan website, blog, profil media sosial, dan portofolio. Mulai berinisiatif mengirimkan proyek kepada klien ketimbang menunggu mereka datang padamu. Jemput bola dong!

6. Pekerjaan utama tetap prioritas

Jika kamu menjadikan pekerjaan freelance sebagai sampingan, maka pekerjaan utama adalah prioritas nomor satu.

Jangan melakukan kesalahan, seperti membuat pekerjaan utama yang menjadi sumber penghasilan bulananmu terancam karena terlalu sibuk mengurus bisnis sampingan.

Beberapa hal perlu dihindari, antara lain melanggar kontrak atau perjanjian karyawan yang ditandatangani saat pengangkatan, menggunakan jam kerja untuk mengurus bisnis sampingan (serius, jangan pernah melakukan ini), menggunakan kantor dan fasilitasnya sebagai tempat mengerjakan pekerjaan sampingan.

Kemampuan menggunakan waktu yang serba terbatas sangat menentukan kesuksesan seorang pekerja freelance.

7. Jadilah networker, jangan soliter

Hanya karena kamu bekerja sendiri, bukan berarti kamu harus terus terisolasi dari dunia luar. Bukan cuma tak sehat, menjadi soliter atau penyendiri sulit menjual namamu di luar sana.

Klien cenderung mempercayai rekomendasi dari orang yang dikenal. Kamu bisa menghadiri berbagai acara untuk menambah jejaring lokal.

Perkenalkan diri kepada klien potensial, dan buat koneksi. Sisanya, berdoa agar Tuhan membukakan pintu rezeki lebih besar untukmu.

Nah, itulah alasan dan tips menjalani kerja freelance bagi para milenial. Semoga bermanfaat dan silakan share artikel ini agar orang lain mendapat manfaat dari artikel ini.

Share:

Leave a Comment

Your email address will not be published.

TOP

X
%d blogger menyukai ini: