kaos jogja

Bisnis kaos asal Kota Wisata, Yogyakarta kian cemerlang dari waktu ke waktu. Pelaku usaha industri kreatifnya terus berinovasi mengikuti tren terbaru, tanpa meninggalkan entitas budaya asli Jogja.

Desain Ikonik

Desain selembar kaos boleh saja minimalis. Namun, tampilan gambar, tulisan, dan latar belakang (background) sangat memengaruhi penjualannya. Bagian depan, belakang, dan lengan adalah fokus penempatan desain supaya kaos terlihat apik.

Ilustrasi-ilustrasi pada kaos Jogja selalu beradaptasi dengan tren yang berkembang di kalangan anak muda. Dari keseluruhan desain yang ada, beberapa di antaranya dikenal ikonik atau khas.

kaos jogja
Sumber gambar: tribunnews.com

Sahabat Ngulon, kali ini kita akan membahas rupa-rupa desain ikonik pada kaos Jogja.

1. Desain Jogja

Desain ini pertama dibahas karena paling banyak dijumpai dan dicari. Julukan Jogja sebagai Kota Wisata membuat banyak wisatawan lokal dan mancanegara mencari kaos Jogja dengan desain khas Jogja. Kaos-kaos tersebut biasanya mereka pakai sendiri, atau dibawa pulang untuk oleh-oleh.

Desain Jogja umumnya menampilkan obyek dan tempat-tempat ikonik, seperti Tugu Jogja, Keraton Jogja, dan Kawasan Malioboro. Ada juga tema Gedung Bank Indonesia, Candi Prambanan, Situs Ngejaman, serta lampu-lampu khas Jogja.

Selain gambar, desainer menyisipkan keterangan tulisan dengan font huruf menarik, seperti Jogja Kota Wisata, Jogja Kota Pelajar, Jogja Never Ending Asiknya, I Love Jogja, 7 Keajaiban Jogja, Pernah ke Jogja, Goes to Jogja, dan sebagainya.

2. Desain Wayang

Desain wayang sangat unik dan original, sehingga disukai wisatawan. Tokoh-tokoh pewayangan, mulai dari Gatot Kaca, Anoman, Arjuna, Srikandi, Semar dan ketiga anaknya, yaitu Gareng, Petruk, dan Bagong atau lebih dikenal dengan sebutan Punakawan populer di kaos-kaos Jogja. Punakawan kerap ditampilkan sebagai sosok lucu, ceria, dengan humor yang khas.

Oblong Suket, salah satu brand kaos Jogja yang banyak memproduksi desain-desain wayang. Salah satu kaosnya bertema Sengkuni is Dead menceritakan sepenggal kisah tragis tentang tewasnya Haryo Suman atau Sengkuni. Sengkuni tokoh jahat dan licik dalam wiracarita Mahabharata yang selalu menghasut para Kurawa untuk memusuhi Pandawa.

Ada juga tema Bima Suci yang menceritakan perjalanan Bima yang penuh rintangan demi menemukan Kayu Gung Susuhing Angin dan Tirta Pawitra. Bima pun bertemu dengan sosok mungil mirip dirinya di dalam samudera, Dewa Ruci.

3. Desain Tokoh

Kaos-kaos Jogja juga menampilkan visual tokoh-tokoh terkenal di Indonesia dan dunia, misalnya Jokowi, Bung Karno, Gusdur, Cak Nun, dan Barack Obama. Desain tokoh biasanya berupa karikatur bagian kepala saja, separuh badan, atau seluruh badan.

Presiden Jokowi yang menyukai musik rock menjadi inspirasi kaos bertema Jokowi Rock. Jokowi diilustrasikan mengenakan kaos hitam dalam balutan kemeja kotak-kotak, penampilan khasnya sejak menjadi Gubernur DKI Jakarta dulu.

Bung Karno kerap diilustrasikan berpeci dan berkacamata hitam. Bapak Proklamator RI itu kadang mengenakan seragam militer atau jas putih kebanggaannya.

4. Desain Indonesia

Desainer-desainer kaos Jogja tak ketinggalan memotivasi anak bangsa supaya bangga menjadi anak Indonesia. Kaos-kaos berdesain Indonesia semakin favorit, seperti tema HUT RI ke-74 dan Cinta Tanah Air.

Ada juga tema Garuda Indonesia, Bineka Tunggal Ika, slogan Presiden Jokowi ‘Kerja, Kerja, Kerja,’ Bendera Merah Putih, dan Pemuda-Pemudi Indonesia. Bagian depan atau belakang kaos biasanya disisipkan tulisan-tulisan penyemangat, seperti Indonesia Pusaka, NKRI Harga Mati, Aku Cinta Indonesia, Indonesia Milik Kita, dan sebagainya.

5. Desain Budaya dan Tradisi

Joga disebut juga Kota Budaya. Meski demikian, budaya dan tradisi yang digambarkan pada kaos-kaos ikonik Jogja tak hanya asli Jogja, melainkan daerah lainnya di Indonesia, mulai dari Sabang sampai Merauke. Contohnya saja kaos bertema Reog Ponorogo, kesenian dari Jawa Timur yang sangat populer di Jogja sekitar 2007.

Saat itu Malaysia ramai mengklaim kesenian tradisional reog. Hal itu membuat panas masyarakat Indonesia. Desainer-desainer kaos Jogja berharap desain Reog Ponorogo pada kaos-kaos Jogja memberi tahu seluruh dunia bahwa reog adalah budaya asli Indonesia.

Ada juga kaos Jogja yang mengangkat tema Papua. Favorit lainnya adalah desain Loro Blonyo, sepasangan pengantin yang mengenakan baju adat khas Jogja. Ada juga tema alat transportasi tempo dulu, seperti sepeda onthel, andong, dan becak.

6. Desain Kartun Modern

Bagaimana jika tokoh pewayangan, pahlawan, super hero lokal dan luar negeri muncul dalam bentuk kartun modern? Pastinya si pemakai tampil imut dan lucu.

Banyak distro asli Jogja menerapkan desain ini, salah satunya Ngartun. Brand yang menyasar remaja dan anak muda ini kerap mendesain kartun wayang menjadi lebih kekinian. Sebagian menggabung kartun wayang dengan kartun super hero luar negeri.

Pada salah satu kaosnya, Ngartun menggambarkan Gatot Kaca versi anak-anak yang sedang mengenakan gelang Power Balance. Kaos ini diluncurkan saat anak-anak muda Indonesia sedang dilanda demam gelang kesehatan Power Balance.

Ada juga kaos bergambar kartun Gatot Kaca sedang lomba balap dengan Batman. Gatot Kaca adalah ksatria dari Pringgondani yang dikenal perkasa, berotot kawat, bertulang besi, serta bisa terbang ke angkasa tanpa sayap.

7. Desain Jenaka

Desain jenaka biasanya berupa gambar dan kata-kata populer yang dipelintir dengan selera Jogja. Misalnya saja kaos bertema The Punakawan yang menampilkan Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong sedang melintas di zebra cross salah satu sisi jalan raya.

Tema ini sudah akrab di kalangan pecinta band legendaris, The Beatles. Parodi tersebut merupakan pelesetan dari sampul album The Beatles berjudul Abbey Road, dirilis sekitar 1969.

Semar, sang ayah digambarkan berambut putih dengan mata sembab. Gareng bermata juling dengan hidung bulat. Petruk berhidung mancung dan rambut dikuncir belakang. Bagong bermata bulat dengan bibir dower.

Ada juga kaos bertuliskan Merapi tak Pernah Ingkar Janji. Tulisan tersebut menerapkan seni tipografi lewat desain huruf-huruf menarik.

Kaos ini terinspirasi dari ucapan Pak Surono, ahli Badan Geologi Kementerian ESDM sesaat setelah Gunung Merapi meletus akhir Oktober 2016. Kata-kata tersebut memelintir judul film lawas Indonesia yang dirilis 1986, dibintangi Paramitha Rusady dan Adi Bing Slamet, yaitu Merpati Tak Pernah Ingkar Janji.

Peminat kaos-kaos Jogja sangat menyukai kaos-kaos dengan tulisan jenaka, mirip seperti konsep Joger Bali. Desainer-desainernya kreatif meramu kata supaya menggelitik pembaca. Contohnya adalah kaos bertuliskan Janjimu Semanis Gudeg Yogyakarta, Mamah Bebas Shopping Asal Papah Boleh Touring, Ipeka Tunggal Ika, Aku Tidak Tanya GOOGLE karena Tuhan Tahu Segalanya, CFD (CeFeDaan), dan lainnya.

Cari Oleh-Oleh? Kaos Jogja Aja!

Pusat oleh-oleh yang menjual kaos-kaos Jogja tak pernah sepi pelanggan. Kaos buatan brand lokal, seperti Dagadu, Gareng T-Shirt, Jogja T-Shirt ramai dicari.

Di beberapa outlet, pembeli tidak sekadar membeli kaos saja, melainkan bisa melihat langsung proses produksi selembar kaos Jogja, mulai dari penyablonan, hingga jahit.

Kisaran harga kaos-kaos ikonik Jogja beragam. Jogja T-Shirt misalnya, brand ini mematok harga Rp 45-500 ribu per lembar kaos. Pakaian berbahan katun lebih murah dibanding bahan batik.

Ada pula kaos-kaos dengan harga di bawah Rp 50 ribu, terbuat dari campuran serat polyester. Pembeli umumnya menyukai kaos-kaos berwarna dasar gelap, seperti hitam dan abu-abu.

Mulai sekarang, tak perlu bingung beli oleh-oleh di Jogja. Pastikan kaos Jogja masuk dalam daftar pencarianmu!

Share:

Leave a Comment

Your email address will not be published.

TOP

X
%d blogger menyukai ini: